Senin, 12 September 2011

Persiapan Mudik Yang Sebenarnya

Oleh : Jalalludin Basri,SE.
PT Gunung Madu Plantations Area III.




Setiap menjelang Idul Fitri, Perumahan – perumahan di Gunung Madu, nampak lengang. Jama’ah di masjid dan musholla mulai berkurang. Jika minggu pertama, masjid-masjid sesak dipenuhi jamaah sholat tarawih maka di penghujung bulan Ramadhan hanya tersisa sekitar satu shaf bahkan kurang dari itu.

Tidak terkecuali pula di masjid Baitul Hikmah Perumahan III, tempat biasa saya shalat. Mulai satu minggu sebelum lebaran, jamaah mesjid tersebut sudah banyak berkurang. Maklum, para karyawan perusahaan ini yang rata-rata perantau mulai libur dan cuti kerja, dan mudik ke kampung halaman.

Mudik adalah kegiatan perantau untuk kembali ke kampung halaman. Mudik bisa berarti pula kembali ke akar kebudayaan kita, ke tempat dimana kita dilahirkan, di daerah yang menjadi asal muasal keluarga besar. Pada hari raya Idul Fitri, nuansa mudik sudah sangat terasa kental. Persiapan-persiapan bahkan sudah dilakukan dari jauh-jauh hari. Pemesanan tiket bahkan sudah dilakukan dari beberapa bulan sebelumnya, menghindari kenaikan harga yang berlebihan. Pembelian oleh-oleh untuk sanak kerabat di kampung halaman pun dipersiapkan dengan rapi sedemikian rupa.

Mesin-mesin yang tidak pernah berhenti beraktivitas, Pabrik besar yang gegap gempita siang dan malam, akan menjadi sepi dan lengang, ditinggal para pekerja yang biasa mengisi kesibukanya. Susah payah kondisi perjalanan tidak menghalangi niatan untuk pulang ke kampung halaman; letih, lelah, dan tenaga yang terkuras, direlakan; membengkaknya biaya perjalanan dan biaya yang dihabiskan, memang sudah diantisipasi jauh-jauh hari sebelumnya. Bagi sebagian orang, mereka bahkan rela mengirit pengeluaran sehari-hari, agar dapat menabung guna memenuhi biaya perjalanan beserta segala pernak-pernik perjalanan mudiknya.

Tradisi mudik di Indonesia adalah urusan yang sangat besar dan sangat menyibukkan. Tidak tanggung-tanggung pemerintah harus menyiapkan dan menjamin kelancaran arus mudik lebaran, dari tentang armada atau angkutan lebaran sampai ke urusan stabilitas sembako. Begitupun para media televisi,radio majalah dan koran tidak ketinggalan tiap waktu mewartakan arus mudik ini.

Tradisi mudik pada Idul Fitri pada dasarnya mengandung nilai positif. Karena di sinilah kita bisa berkunjung dan menyambung silaturrahim dengan orangtua, sanak saudara, kerabat dan handaitaulan di kampung halaman. Mereka saling mengunjungi dan bermaaf-maafan. Bisa kita bayangkan apabila tidak ada lebaran dan tradisi mudik, berapa banyak orang yang kehilangan sanak keluarga karena tidak pernah bertemu dan saling silaturrahim. Walau begitu, silaturrahim dan saling memaafkan tidak harus dilakukan di Hari Raya saja, tapi di hari-hari lainpun bisa dilakukan. Yang perlu diingat ketika mudik adalah persiapan bekal. Supaya lancar sampai tujuan maka bekal tersebut perlu disiapkan sebaik-baiknya.

Para pembaca yang budiman, dapatkah kita mengambil pelajaran dari peristiwa mudik di hari raya Idul Fitri tersebut yang sebagian besar masyarakat kita melakukannya setiap tahun? Bicara tentang mudik, kita teringat dengan peristiwa mudik yang akan dialami oleh setiap orang,karena setiap orang hakikatnya adalah perantau. Setiap orang pasti akan mengalami mudik yang seperti ini bahkan banyak dari kita telah mudik mendahului kita. Mudik yang mau tak mau harus kita lakukan. Tidak peduli kita kaya atau miskin, dan baik terpaksa maupun tidak. Tak lain, mudik tersebut adalah mudik ke kampung akhirat, kampung halaman abadi.

Mudik ini adalah mudik yang tidak pernah kembali lagi ke perantauan, karena di sanalah tempat abadi kita. Untuk menuju ke sana hanya ada satu kendaraan, yaitu kematian. Kematian akan menjemput kita. Itulah mudik yang sebenarnya. Akhirat adalah kampung dengan satu pintu, sekali kita melewatinya, maka sudah pasti dan tidak akan mungkin kita bisa kembali lagi ke dunia. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah, “Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu semua melarikan diri darinya itu, pasti akan menemui kamu, kemudian kamu semua akan dikembalikan ke Dzat yang Maha Mengetahui segala yang gaib serta yang nyata.” (QS. Al-Jumu'ah:8).

Dalam banyak firman-Nya, Allah selalu mengingatkan kita pada konteks mudik ini. Misalnya, "Kemudian, kepada-Kulah tempat kalian semua pulang" (Tsumma Ilayya Marji'ukum). Maka, tradisi mudik yang hingga kini tak pernah tersentuh dan terpengaruh sedikit pun oleh krisis macam apa pun, termasuk krisis yang tiada henti mendera bangsa ini, sebenarnya menjadi prosesi panjang perjalanan anak manusia menuju Tuhannya. Macam-macam cara ditempuh orang untuk menyiapkan kepulangannya. Pulang ke kampung halaman di dunia ini atau ke kampung halamannya di akhirat kelak. Dua tujuan tersebut, meski sama-sama memiliki perspektif yang berbeda tetapi sungguh sama-sama membutuhkan persiapan, minimal bekal untuk dibawa pulang. Bekal untuk keperluan diri sendiri, atau bekal yang akan kita persembahkan kepada saudara-saudara yang tinggal di kampung. Lantas siapa keluarga kita di akhirat? Mudik ke kampung akhirat, tentu tujuannya cuma satu, "bertemu" dengan Allah SWT (Liqaa'a Robbihi).

Mudik ke kampung halaman menjelang Idul Fitri, sesungguhnya merupakan latihan yang nyata menjelang kepulangan kita selama-selamanya ke pangkuan Ilahi. Tanpa kita sadar, selama sebelas bulan lamanya, berbagai persiapan kita lakukan dengan mengumpulkan sebanyak mungkin bekal yang akan kita bawa pulang.

Allah selalu mengingatkan kita agar jangan sampai menyesal ketika kematian datang dan kita masih belum punya bekal yang dibawa yang dapat menyelamatkan kita di alam kubur dan alam akhirat kelak. Sebagaimana orang-orang yang menyesal karena saat kematian tiba bekal yang dibawanya merasa tidak cukup dan merengek kepada Allah supaya jangan dimatikan terlebih dahulu, atau kalau pun sudah dimatikan ingin dikembalikan lagi ke dunia. “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?’" (QS.: Al-Munafiqun [63]:10).

Untuk itu saudara ku, sudah seberapa baik perbekalan yang telah kita persiapkan? Bahkan, sudah sampai seberapa siap diri kita untuk menghadapi perjalanan panjang? Imam Ali bin Abi Thalib, pernah berkata, “Sesungguhnya kita berada pada hari dimana hanya ada amal tanpa ada perhitungan, dan sesungguhnya kita menuju hari dimana hanya ada perhitungan tanpa ada amal”.

Oleh karena itu, jadikan setiap detik dalam hidup kita ini menjadi hari-hari pengumpulan bekal mudik ke kampung akhirat kita, dan tidak cukup sampai di situ, jadikan seluruh sisa usia kita, menjadi ajang persiapan mudik ke kampung akhirat, baik dengan beribadah secara vertikal maupun transendental.

Mari kita jadikan dunia ini sebagai ladang untuk mengumpulkan perbekalan mudik kita ke kampung akhirat. Semoga bekal kita mencukupi sehingga kita mendapatkan tempat yang terbaik di akhirat kelak. Begitu teman – teman ......setuju nggak..?!.

Taqobalallah minna waminkum Taqobal yaKarim. Minal Aizin Walfaidzin. Mohon maaf lahir dan batin.

Minggu, 21 Agustus 2011

Selamat Iedul Fitri 1432 H



Oleh : Jalalludin Basri,SE.
PT. Gunung Madu Plantations Area III.


Dengan takbir dan tahmid, umat Islam melepaskan bulan Ramadan dan dengan takbir dan tahmid pula menyambut 1 Syawal 1432 H. Mudah-mudahan pelepasan bulan Ramadan dan penyambutan bulan Syawal terpenuhi makna dan arti kedua peristiwa yang terjadi dalam suasana bergembira.

Selama bulan Ramadhan, jiwa, ruh, dan hati umat Islam benar-benar telah terasah dengan amal-amal kebajikan, sehingga hati mereka yang merupakan wadah ketakwaan semakin terbuka lebar dan luas guna lebih mengembangkan dan meningkatkan kualitas takwa yang sudah diperoleh selama beribadah di bulan Ramadan, "Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa" (QS. Al-Hujurat ayat 3). Tujuan dari puasa adalah untuk menjadikan orang-orang yang melakukannya menjadi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 183:“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu sekalian dapat bertaqwa”.

Idul fitri adalah hari kemenangan besar yang mengembalikan manusia pada fitrahnya (kesuciannya) dimana jiwa kembali bersih karena dibasuh dengan ibadah, fitrah dan saling memaafkan serta rezeki yang kita miliki telah dicuci pula dengan zakat.

Kembali kepada kesucian artinya dengan merayakan Idul Fitri ini kita mendeklarasikan kesucian kita dari berbagai dosa sebagai buah dari ibadah sepanjang bulan Ramadan. Pada Idul Fitri inilah, manusia yang taat pada takdir Allah SWT meyakini tibanya kembali fitrah diri yang kerap diimajinasikan dengan ungkapan kala itu seperti terlahir kembali. Dan, bila kita bersedia menerima fitrah yang ada di hari besar ini serta menerjemahkan dengan pikiran dan bahasa sederhana, Idul Fitri merupakan momentum bagi manusia untuk langkah awal menuju kehidupan lebih baik.

Segenap Staff dan Karyawan Divisi III Area Mengucapkan Taqobalallah Minna Waminkum Taqobal YaKarim,Minal Aidzin Walfaidzin, Mohon ma’af lahir dan batin.

Sepenggal Hikmah Mudik Lebaran


Oleh : Jalalludin Basri,SE.
PT. Gunung Madu Plantations Area III.





Disebutkan sayyidina 'Ali karamallahu wajhah, pernah mengatakan bahwa hidup adalah sebuah perjalanan panjang, bahwasanya seluruh aktifitas hidup sejatinya adalah perjalanan kembali pulang ke asal. Hidup ini sejatinya adalah perjalanan mudik.

Sudah lama kita meninggalkan kampung, sepanjang dan selama umur kita. Kita bahkan sudah tidak tahu bagaimana keadaannya.Yang paling menyedihkan adalah kita tidak punya bekal yang cukup untuk menempuh perjalanan,bahkan tidak tahu bagaimana keadaan kita sesampainya disana.

Kampung abadi adalah akhirat. Kesanalah perjalanan seluruh manusia bermuara. Banyak orang yang sampai disana, sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah Saw, bekal yang disiapkannya harus diberikan kepada orang lain sehingga dia akhirnya tenggelam dalam penderitaan abadi. Orang-orang itu, ketika pertama sekali datang kepada Allah Swt, mereka membawa banyak kebaikan sebagai bekal, tetapi ketika Allah Swt akan memberikan tempat yang baik untuknya, orang-orang yang pernah dizaliminya, disakiti hatinya, disiksa pisiknya, atau dianiaya, datang dan meminta pertanggungjawabannya sehingga seluruh bekalnya akan diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang telah dianiaya itu. Sayyidina 'Ali mengatakan, "bekal yang paling buruk di hari kiamat adalah berbuat zalim kepada sesama manusia."

Sahabat,itulah kampung kita yang sebenarnya. Seharusnya kepulangan adalah perjalanan yang menyenangkan, yang ditunggu-tunggu waktunya, dan paling dipersiapkan dengan baik. Tetapi ada juga kepulangan yang tiba-tiba, tanpa persiapan dan tentu saja tanpa bekal. Yang pertama disebut pulangnya orang beriman, mereka akan dijemput oleh Rasulullah Saw dan para malaikat dengan senyuman; sementara yang kedua disebut pulangnya orang-orang durhaka.

Mendekati lebaran ini, kita sudah merencanakan mudik. Jauh-jauh hari kita sudah menabung dan menyisihkan rezeki untuk bekal, membeli tiket, dan menyiapkan oleh-oleh. Semuanya kita rencanakan dengan baik. Kita sudah tidak tahan untuk segera bertemu dengan orang tua yang kita cintai, bahkan walau hanya kuburnya sekalipun. Kita sudah rindu untuk bertemu dengan saudara, keluarga dan handai taulan. Kepada mereka kita akan bawakan oleh-oleh yang terbaik yang bisa kita siapkan. Kita pulang ke kampung halaman karena kerinduan.

Karenanya, mudik ke kampung menjelang lebaran ini mestinya menjadi pelajaran, semacam latihan untuk pulang ke kampung abadi suatu saat nanti. Kita membutuhkan pulang kampung, kata Emha 'Ainun Najib, karena di kampunglah kita menemukan keteduhan, ketulusan orang-orang desa, kesederhanaan, kezuhudan yang tidak dibuat-buat, dan keikhlasan yang sederhana. Tempat yang kita tempati selama ini telah mengajari kita untuk berpura-pura, memaksa kita menjadi pemangsa segala, menjadi opportunis, serba cepat namun gegabah, dan memaksa untuk selalu bersikap curiga. Kita butuh mudik agar kita bisa disegarkan kembali dari apa-apa yang sudah hilang di dalam hidup kita. Dan yang paling penting adalah, kita belajar untuk mudik yang sesungguhnya.

Bulan ramadhan yang didalamnya ada laylatul qadr. Allah disuguhkan kemuliaan yang tidak ada di malam-malam yang lain. Marilah kita memanfaatkannya untuk mengumpulkan bekal dalam perjalanan, saat kita mudik nanti. Rasanya hati sudah tidak sanggup lagi menanggung kerinduan untuk bertemu dengan pemimpin kafilah ruhani, Muhammad al-Musthafa yang akan menyiapkan air kehidupan dari telaga al-Kautsar. Marilah kita mempersiapkan mudik bersama ke kampung abadi seperti kita menyiapkan mudik ke kampung lebaran nanti.

Jumat, 19 Agustus 2011

Buka Bersama 18 Ramadhan 1432 H


Sebagai bentuk menjalin silaturahim sesama warga, divisi III mengadakan "Buka Bersama" yang di ikuti seluruh warga divisi III .






Selasa, 26 Juli 2011

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa

Oleh : Jalalludin Basri,SE.
PT Gunung Madu Plantations Area III




Al-Baqarah ayat 183:”Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kalain bertakwa.”
Jika semua harta adalah racun, maka zakatlah penawarnya.
Jika semua umur adalah dosa, maka tobatlah obatnya
Jika seluruh bulan adalah noda maka Ramadhanlah pemutihnya.
Kami Keluarga besar Divisi III Plantations mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Semoga puasa kali ini semakin kita dekat dan cinta kepada Allah yang benar-benar mengerti kita.Semakin cinta Allah yang benar-benar mengerti tautan sel dan alian darah ditubuh kita.
sahabat, Kita hanyalah peminjam atas nyawa yang diberikanNya,
Kita hanyalah peminjam atas tubuh, waktu, dan kesempatan.
Apakah kita akan menyia-nyiakan pinjaman ini.
Perlu sahabat ketahui, bahwa bulan ini adalah bulan penempaan.
seperti seorang tentara yang akan berperang, maka bulan ini adalah bulanpelatihanperang. Tapi taukah sahabat, bahwa peperangan yang sebenar-benarnya adalah 11 bulan yang akan kita lalui setelahnya. Sukses tidaknya penempaan pada bulan ini dapat dilihat pada 11 bulan kedepan.
Ramadhan seperti layaknya toko, dia memberikan obral pahala besar-besaran.
diskon dosa sampai 99%, bahkan 100%. Memberikan Dorprize lailatul Qadar
Maka, mari kita kejar, kita tempa diri kita dibulan ini agar tidak terkejut akan apa yang akan kita hadapi 11 bulan kedepan.Sekali lagi Kami Staff dan Karyawan Divisi III Plantations mengucapkan Selamat menunaikan Ibadah puasa. Mohon maaf atas segala kesalahan. semoga bulan esok kita kembali fitrah. seperti bayi yang baru lahir. Mari kita bangun semangat dan jiwa perang kita.
Selamat menjalankan ibadah puasa
Divisi III,………………. Bangkit!
Divisi III Bangkit,………Yesss!!
Gunung Madu,…………Jaya!

Kamis, 07 Juli 2011

Lukisan 3D di Jalanan yang Seperti Nyata

Berikut ini adalah foto - foto lukisan 3D di Jalanan. Mungkin sobat bisa lihat bagaimana orang yang berada di sekitar lukisan seperti menyatu didalam lukisan tersebut. Wah...benar - benar Amazing Gan !














Kamis, 23 Juni 2011

Melihat,,, Suasana Irigasi Di Kebun Tebu,,

Tanaman memang tak bisa terlepas dari yang namanya air, PT. Gunung Madu Plantations khususnya di Divisi Area III melakukan beberapa upaya dalam meningkatkan tebu-tebu yang berkualitas,







adapun upaya tersebut dengan mengupayakan sistem pengairan ( Irigasi ) dengan semaksimal mungkin dengan mengandalkan tandon air atau yang dikenal dengan lebung ( situ ) yang ada di seputaran areal tebu,
Sebagai tanaman tropis tebu sangat membutuhkan pengairan yang cukup agar dapat menghasilkan tonase dan rendemen yang baik.

Rabu, 22 Juni 2011

Mendefinisikan Siapa Kita

Banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, mau tidak mau, sadar ataupun tidak sadar, setiap perkataan kita, semua perbuatan kita, segenap tingkah laku kita, dan sebagainya akan mendefinisikan siapa kita.



Setiap orang akan selalu berusaha memproyeksikan gambaran tentang citra dirinya, ingin agar orang lain melihat kita dengan cara atau sisi tertentu, dan berusaha menanam di pikiran orang lain bahwa ada sesuatu yang berharga dari diri kita.

Kenapa kita selalu ingin mendefinisikan siapa kita? karena manusia pada dasarnya punya keinginan untuk eksis, untuk show up. Diberbagai situs seperti Facebook menunjukkan dengan jelas bagaimana kita mendefinisikan diri kita dan bagaimana kita ingin orang lain untuk mendefinisikan kita.

Banyak sekali hal yang bisa menjadi point untuk mendefinisikan siapa kita, dari pekerjaan, seksualitas, status perkawinan, keluarga, minat, pendidikan, berat, uang, orang tua, prestasi orangtua seseorang, prestasi sendiri, kegagalan, mencintai, kebencian, bakat, apa yang telah dihasilkan(mobil, pakaian, rumah), penampilan seseorang, kebiasaan diet, kesehatan, perjalanan, jenis kelamin, ras, kebangsaan, teman-teman, investasi, dan sebagainya. Kesemuanya itu adalah bagian dari yang ingin kita tunjukkan dan ingin kita katakan yaitu "Ini adalah siapa aku."


Bagaimana baik dan buruknya definisi seseorang terbentuk?

Kita mengawali hidup kita dengan mempelajari hal-hal di sekitar kita dan belajar apa yang perlu kita lakukan. Dari hal-hal yang kita ketahui dan pelajari itu yang akan mendasari skill dan knowledge kita. Dilanjutkan dengan bagaimana kita membangun hubungan dengan orang-orang di sekitar kita. Pada akhirnya ketika apa yang kita lakukan, apa yang kita percaya dan apa yang kita tunjukkan mendefinisikan siapa kita. Setiap orang yang tau dengan kita akan melihat, mengenal dan mengenang kita. Kepercayaan atau keraguan, baik atau buruk akan terbentuk pada orang-orang yang mengenal kita.

Makna Produktivitas

Oleh : Jalalludin Basri,SE.
PT Gunung Madu Plantations Area III




Begitu memutuskan, segeralah bertindak. (Maximilien Robespierre)
Pilihlah untuk bertindak, ketimbang menunda. (Og Mandino)
Mungkin kita terbiasa untuk menuntaskan apa yang semestinya kita kerjakan setiap hari dengan berkerja keras di akhir pekan. Namun sahabat, bukan itu makna dari tujuh hari dalam seminggu.

Ketika seseorang ingin sembuh dari penyakit, ia harus minum obat setiap hari; bukan dengan meminum seluruh dosis di akhir pekan.
Begitu pula agar seorang siswa dapat naik kelas, maka ia harus mengerjakan pelajaran dan belajar setiap malam; bukan membaca bertumpuk buku sehari menjelang ujian.
Ini adalah prinsip sederhana dari produktivitas.

Produktivitas bukanlah sekedar menghasilkan apa yang dapat kita hasilkan sekarang atau esok. Namun, produktivitas adalah menjaga agar manfaat dari hasil itu bisa diperoleh sebaik-baiknya hingga di masa-masa mendatang. Mungkin anda bisa menghafal semua pelajaran anda dalam waktu semalam, namun jangan menyesal jika itu hanya bertahan semalam pula. Karena itu, produktivitas selalu berkenaan dengan waktu. Sedangkan waktu adalah ketekunan, kesabaran, dan ketahanan diri.
Pekerjaan berat akan terasa ringan jika segera kita kerjakan, akan terasa berat jika kita menudanya dan kita kerjakan setelah seminggu kemudian. hehehe
Divisi III,………………. Bangkit!
Divisi III Bangkit,………Yesss!!
Gunung Madu,…………Jaya!

Selasa, 14 Juni 2011

Renungan Kemerdekaan Republik Indonesia



Oleh : Jalalludin Basri,SE.
PT Gunung Madu Plantations Area III



HUT RI. 17 Agustus 2011.
Bila bukan karena ada orang yang mau mendedikasikan hidup mereka,
dan terkadang nyawa mereka,Indonesia tentu tidak akan seperti yang sekarang ini. Kita bisa menikmati kemerdekaan, karena ada orang yang berjuang dan mati karenanya. Kita juga bisa menikmati kemajuan pengetahuan, ilmu, dan dan kebijaksanaan setelah kemerdekaan diperoleh juga karena ada orang yang mengorbankan diri untuk memajukannya.

Pada setiap hari terdapat sebuah kesempatan untuk
meneruskan warisan itu, dan mengembangkannya. Bila anda mau
menghidupi diri anda untuk melayani sesuatu yang lebih besar dari
diri anda sendiri, anda akan dapat merasakan terpenuhinya kebutuhan
yang tidak mungkin anda peroleh bila hanya memikirkan diri sendiri.
Tentu anda harus menjaga diri sendiri. Karena itu adalah tanggung
jawab anda pribadi. Tetapi jangan lupakan negara dan bumi pertiwi, karena setiap tempat yang anda datangi, setiap orang yang anda temui, setiap waktu yang anda jalani, anda menemukan kesempatan untuk mempersembahkan sesuatu bagi apa yang lebih besar dari diri anda sendiri. Hanya lewat cara itu, anda bisa mengekspresikan diri sekaligus mengembangkan diri. Itulah bukti syukur anda atas kemerdekaan negeri ini.


Divisi III,………………. Bangkit!
Divisi III Bangkit,………Yesss!!
Gunung Madu,…………Jaya!

Senin, 13 Juni 2011

Upacara Menyambut HUT RI 66
















Dalam rangka menyambut HUT RI Ke 66 Perumahan III mengadakan lomba-lomba yang diawali dengan pembukaan upacara HUT RI yang berlangsung pada tanggal 12 Juni 2011 di Lapangan Hijau Perumahan III PT. Gunung Madu Plantations.
Seluruh warga Perumahan III sangat antusias dalam mengikuti acara ini. Setelah mengikuti upacara dia adakan jalan sehat sekaligus makan nasi tumpeng yang dilombakan oleh Ibu-ibu setiap RT, seluruh warga perumahan III baik itu Bapak-bapak, Ibu-ibu, Remaja putra-putri dan anak-anak begitu semangat dan terlihat ceria.

Kamis, 02 Juni 2011

Lomba Qosidah & Puisi






Dalam wujud melestarikan budaya Islami Divisi mengadakan acara lomba Qosidah dan baca Puisi,yang diikuti 5 peserta dari perumahan III dan Bedeng Sangaji.

Sebagai Ketua Pelaksana Ibu. Haj Tatik S beliau mengatakan acara tersebut sebagi bentuk menjalin silaturahmi sesama warga Divisi III serta menjadi wadah untuk mensalurkan bakat.

  © Blogger template 'Personal Blog' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP