Selasa, 13 Desember 2011

Mengeluh ? Bersyukurlah


 
Oleh : Jalalludin Basri,SE.
PT Gunung Madu Plantations Area III

 
Sebagai manusia, wajarlah jika sesekali kita mengeluh dengan keadaan yang tidak sesuai keinginan. Tetapi, tidak pantas rasanya jika setiap kali kita menemukan hal yang melenceng saja dari apa yang kita inginkan dihadapi dengan mengeluh.

Mengeluh sepertinya sudah menjadi “tren”. Contohnya saja dengan adanya jejaring sosial yang memungkinkan untuk kita bisa share apapun yang kita alami. Ini secara tidak langsung dapat menjadi hal pelancar mengeluh. Pentingkah menceritakan semua yang menimpa kita kepada semua orang? Apakah dengan menceritakan semuanya dapat menghilangkan masalah itu? Tentu tidak.

Memang, mengeluh sah-sah saja untuk mencari solusi masalah kita. Yang terjadi ketika kita mengeluh, apakah kita berpikir untuk menemukan solusi? Kebanyakan kita tidak berpikir jauh seperti itu. Secara tersirat, tujuannya hanya ingin orang mendengarkan keluh kesah kita

Sebenarnya, dengan atau tanpa mengeluh hidup tetaplah hidup. Yang harus dijalani walaupun lelah, yang harus dihadapi walaupun berat, yang harus dimengerti walaupun rumit. Memperlihatkan kelemahan kita justru akan menjadi negatif.
Sebegitu susahkah untuk bersyukur?

Divisi III,………………. Bangkit!
Divisi III Bangkit,………Yesss!!
Gunung Madu,…………Jaya!

Selamat Tahun Baru 1433 Hijriah




Oleh : Jalalludin Basri,SE.
PT.Gunung Madu Plantations Area III.

Semangat hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Yatsrib,yang  kemudian ditetapkan sebagai awal penanggalan dalam Islam oleh khalifah kedua setelah Abu Bakar [sepeninggal Rasulullah saw], 
Umar ibn Khattab, menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam di kurun sekarang dan generasi berikutnya.


Kendati latar belakang penetapan tahun hijriah, ingin memperkenalkan identitas keislaman [ketika itu Umar bin Khattab menerima surat jawaban atas surat khalifah sendiri yang tidak mencantumkan penanggalan], namun umat Islam dituntut melakukan perubahan dan perbaikan secara terus-menerus.

Proses penetapan menanggalan dalam Islam itu, semula banyak usul yang disampaikan kepada Umar bin Khattab, misalnya ada yang menyarankan saat diangkatnya Nabi Muhammad saw menjadi Rasul, ada yang mengusulkan dari lahirnya Rasulullah saw, dan ada pula yang berpendapat dari kewafatan beliau.

Yang lain menyarankan, penetapan awal penanggalan dalam Islam itu, momentum hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Yatsrib. Peristiwa itu dipandang penting, karena hijrah merupakan titik balik dakwah, setelah 13 tahun mengemban misi dakwah Islam di Makkah.

 
Maka minggu 27 November 2011 merupakan momentum penting bagi umat Islam. Hari itu awal penanggalan tahun hijriah, 1 Muharram 1433. Kenapa dinamakan tahun hijriah? Sebab, penetapan oleh Khalifah Umar bin Khattab, kala itu berdasarkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Yatsrib (Madinah).

Peristiwa tersebut dipandang penting, karena hijrah bermakna perpindahan Nabi Muhammad saw bersama sebagian pengikut beliau dari Makkah ke Madinah untuk menyelamatkan diri dan sebagainya dari tekanan kaum kafir Quraisy di Makkah.

Hijrah, juga bermakna berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari satu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan dan sebagainya). Atau perubahan (sikap, tingkah laku dan sebagainya) ke arah yang lebih baik.

Dengan demikian tahun hijriah, penanggalan dalam Islam itu berhubungan dengan hijrah atau berkenaan tarikh Islam yang dimulai dari ketika Nabi Muhammad saw bersama sebagian pengikut beliau berhijrah ke Madinah, dulu bernama Yatsrib.

Pergantian tahun 1432 ke 1433, jadi wahana pemantapan pemahaman ajaran Islam bagi pemeluknya. Mengambil semangat hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad saw bersama sebagian pengikut beliau, sudah sepantasnya bangkit semangat perubahan, baik sikap dan perilaku ke arah yang lebih baik.

Hijrah secara fisik itu
,sebagai tonggak permulaan tarikh Islam, dimaknai kepindahan Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah.Secara nonfisik, hijrah bisa pula dimaknai berpindah, meninggalkan dan tidak mempedulikan lagi atau menjauhkan diri dari dosa. Semangat demikian ingin diaktualisasikan oleh muslimin dari berbagai aspek kehidupan, termasuk mengingat kembali betapa berat perjuangan Rasulullah saw pada zamannya.

Kalau begitu sudah selayaknya pula, momentum pergantian tahun ini dijadikan wahana untuk mengevaluasi berbagai tindakan selama setahun berjalan, tidak sekadar peringatan apalagi seremonial belaka. Sesuai makna hijrah secara harfiah, ingin melakukan perubahan dalam semua aspek kehidupan.


 

Senin, 12 Desember 2011

MALAM PELEPASAN PURNA KARYA









Adalah suatu prinsip yang mengawal sebuah revolusi besar didunia ini

Vini, vidi, vici. Aku datang, aku lihat, aku menang.
Ungkapan ini rasanya koq pas untuk menggambarkan kisah mereka
Tak pelak menjadi pioneer perusahaan besar bermanfaat bagi kemaslahatan umat
Bayangkan waktu dahulu, dan bandingkan dengan sekarang

Saya rasa layak mendapatkan pujian
Mereka merintis, mereka berjuang, kadang tumbang, kadang terkapar
Tapi bukan itu alasan untuk sebuah pujian
Bukan ....

Mereka datang dengan tangan terkepal, sorot mata yang tajam
Meyakinkan diri bahwa aku akan berkarya

Kau lihatkan kini mereka tenang, menang dalam perjuangan
Lampaui batas, berganti yang muda. Yang penuh ambisi, berkutat dengan emosi, bermain dengan teori.

Saya ingat sekali, terpatri dalam benak ini,
Mereka berpesan, majulah
Tiba waktunya untukmu berkarya,
Kutitipkan kepadamu, baktiku untuk gunung madu.

Bapak Ibu yang berbahagia

Tidaklah apa yang akan kami tampilkan kali ini
Layak untuk diklaim sebagai persembahan
Bandingkan dengan pengabdian mereka-mereka ini,
Puluhan tahun bekerja, dalam tiga generasi yang berbeda
Berkarya, berkutat, kadang tumbang, kadang terkapar, membangun Gunung Madu.

Biarlah malam ini kita jadikan momentum
Hingga suatu saat kelak kita ingatkan
Bahwa kita adalah saudara

Bapak Ibu yang berbahagia,
Malam ini,disini.
Kami  akan persembahkan satu tampilan buat mereka, dan buat kita semua.

Kebiasaan para Nabi dan Rasul

Oleh : Jalalludin Basri, SE. 
PT. Gunung Madu Plantations Area III.


“Tidak akan masuk ke dalam api neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah hingga air susu (yang sudah keluar) kembali ke tempat asalnya.” (HR. tirmidzi)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda, ''Siapa saja yang berdzikir kepada Allah kemudian mengalir air matanya hingga menetes ke tanah disebabkan rasa takutnya kepada Allah, niscaya Allah tidak akan menyiksanya pada hari kiamat.'' (HR Al-Hakim).

Menangis merupakan sesuatu yang amat sering kita jumpai, bahkan tidak jarang pula kita lakukan. Menangis merupakan ekspresi seseorang menggambarkan suasana hatinya.
Menangis yang akan memberikan manfaat kelak di akhirat adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya di atas, yakni menangis ketika berdzikir mengingat Allah yang disebabkan karena munculnya rasa takut kepada Allah.
Menangis merupakan kebiasaan para Nabi dan Rasul serta para ulama. Sedemikian besarnya manfaat menangis, sampai-sampai Rasulullah SAW memerintahkan bagi yang tidak mampu menangis karena takut kepada Allah untuk berpura-pura menangis.
Hal ini sebagaimana beliau ungkapkan pada kesempatan lain. 
''Wahai manusia, menangislah! Jika kalian tidak mampu menangis, pura-puralah kalian menangis. Karena sesungguhnya penduduk neraka akan menangis di neraka, hingga air mata tersebut seolah-olah membentuk aliran sungai di wajah mereka.'' (HR Abu Ya'la).
Menjelaskan hadis di atas, adalah sabda beliau lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Al-Tirmidzi dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ''Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah pada saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.''
Di antara ketujuh golongan tersebut, Rasulullah SAW menyebutkan salah satunya adalah seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sunyi tiba-tiba meneteslah air matanya.
Hadis ini menjelaskan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Thabrani, yakni menangis yang menimbulkan rasa takut kepada Allah ketika berdzikir dilakukan dalam keadaan yang sunyi. Dalam arti tidak ada orang yang melihatnya.
Menangis dalam kesunyian lebih memungkinkan untuk timbulnya keikhlasan dalam diri orang tersebut. Lain halnya jika menangis di tengah keramaian. Boleh jadi menangis itu bukan karena dorongan rasa takut kepada Allah, tapi terbawa suasana dan perasaan tidak enak bila tidak menangis.
Menangisnya para Nabi dan Rasul serta para ulama benar-benar karena rasa takut mereka kepada Allah SWT. Bukan tangisan yang disebabkan oleh lantunan musik mendayu-dayu, bukan pula perkataan seseorang yang menjadikan mereka sedih. Bisakah kita menangis karena rasa takut kepada Allah?
Wallahu a'lam bish shawab.

Minggu, 02 Oktober 2011

Kumpulan Motivasi Mario Teguh



 
Kita menilai diri dari apa yang kita pikir bisa kita lakukan, padahal orang lain menilai kita dari apa yang sudah kita lakukan. Untuk itu apabila anda berpikir bisa, segeralah lakukan 
Bukan pertumbuhan yang lambat yang harus anda takuti. Akan tetapi anda harus lebih takut untuk tidak tumbuh sama sekali. Maka tumbuhkanlah diri anda dengan kecepatan apapun itu.
Jika anda sedang benar, jangan terlalu berani dan bila anda sedang takut, jangan terlalu takut. 
Karena keseimbangan sikap adalah penentu ketepatan perjalanan kesuksesan anda Tugas kita bukanlah untuk berhasil. 
Tugas kita adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil 
Anda hanya dekat dengan mereka yang anda sukai. Dan seringkali anda menghindari orang yang tidak tidak anda sukai, padahal dari dialah Anda akan mengenal sudut pandang yang baru 
Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan Anda tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila anda berkeras untuk mempertahankan cara-cara lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila cara-cara anda baru 
Orang lanjut usia yang berorientasi pada kesempatan adalah orang muda yang tidak pernah menua ; tetapi pemuda yang berorientasi pada keamanan, telah menua sejak muda 
Bila anda belum menemukan pekerjaan yang sesuai dengan bakat anda, bakatilah apapun pekerjaan anda sekarang. 
Anda akan tampil secemerlang yang berbakat 
Kita lebih menghormati orang miskin yang berani daripada orang kaya yang penakut. Karena sebetulnya telah jelas perbedaan kualitas masa depan yang akan mereka capai 
Jika kita hanya mengerjakan yang sudah kita ketahui, kapankah kita akan mendapat pengetahuan yang baru ? Melakukan yang belum kita ketahui adalah pintu menuju pengetahuan 
Jangan hanya menghindari yang tidak mungkin. Dengan mencoba sesuatu yang tidak mungkin,anda akan bisa mencapai yang terbaik dari yang mungkin anda capai. 
Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah. 
Bila anda mencari uang, anda akan dipaksa mengupayakan pelayanan yang terbaik. Tetapi jika anda mengutamakan pelayanan yang baik, maka andalah yang akan dicari uang semoga bermanfaat!

Minggu, 25 September 2011

Dahsyatnya Cita-Cita

Suatu pagi yang cerah, di dekat rukun Yamani, duduklah empat remaja yang tampan rupa, berasal dari keluarga yang mulia. Mereka adalah Abdullah bin Zubair, Mus`ab bin Zubair, Urwah bin Zubeir dan satu lagi adalah Abdul Malik bin Marwan.
Mereka saling mengungkapkan apa yang menjadi obsesinya. Abdullah bin Zubair angkat bicara, “Cita-citaku adalah menguasai seluruh Hijaz dan menjadi khalifahnya.” Saudaranya, Mus`ab menyusulnya, “Keinginanku adalah dapat menguasai dua wilayah Irak dan tak ada yang merongrong kekuasaanku.” Adapun Abdul Malik bin Marwan berkata, “Bila kalian berdua merasa cukup dengan itu, maka aku tidak akan puas sebelum bisa menguasai seluruh dunia dan menjadi khalifah setelah Mu`awiyah bin Abi Sufyan.” Sementara itu Urwah diam seribu bahasa, lalu semua mendekati dan bertanya, “bagaimana denganmu, apa cita-citamu kelak wahai Urwah?” Beliau berkata, “Semoga Allah memberkahi cita-cita kalian dari urusan dunia, aku ingin menjadi alim [orang berilmu yang mau beramal], sehingga orang-orang akan belajar dan mengambil ilmu tentang kitab Rabbnya, sunnah nabinya dan hukum-hukum agamanya dariku, lalu aku berhasil di akhirat dan memasuki jannah dengan ridha Allah l.” Hari-hari berganti serasa cepat. Pada gilirannya, Abdullah bin Zubair menjadi penguasa atas Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan dan Irak yang pada akhirnya terbunuh di Ka`bah, tak jauh dari tempatnya mengungkapkan cita-citanya dahulu. Mus`ab bin Zubair telah menguasai Irak sepeninggal saudaranya Abdullah, dan akhirnya juga terbunuh ketika mempertahankan wilayah kekuasaannya. Adapun Abdul Malik bin Marwan, akhirnya menjadi khalifah setelah ayahnya wafat dan bersatulah suara kaum muslimin, dia berhasil menjadi raja dunia terbesar pada masanya. (Shuwaru min hayaatit taabi’in, Ra’fat Basya) Begitupun, dengan Urwah bin Zubeir. Beliau menjadi ulama panutan di zamannya. Ibnu Sa’ad dalam thabaqat kedua dari penduduk Madinah menyebutkan, “Urwah adalah seorang yang tsiqah, banyak meriwayatkan hadits, faqih, alim, tsabit dan bisa dipercaya”. (Kitab at-Tahdzib). Bahkan tidak sedikit dari kalangan sahabat Nabi saw yang bertanya kepada beliau tentang ilmu, meskipun beliau seorang tabi’in. Realita tak Jauh dari Cita-cita Kisah keempat remaja itu membuka mata kita, bahwa apa yang didapatkan manusia, tak akan jauh dengan apa yang menjadi obsesinya. Karena obsesi dan cita-cita itu akan menggerakkan pemiliknya menuju tujuannya. Fokus pikiran, tenaga dan potensi yang dimilikinya akan tercurah untuk meraih apa yang menjadi impiannya. Karena itu, jangan tanggung-tanggung menentukan cita-cita, jangan merendahkan diri untuk menetapkan target dan tujuan. Cita-cita yang biasa saja, akan menjelma menjadi usaha yang apa adanya, dan pada gilirannya hanya akan memanen hasil yang biasa-biasa pula. Padahal Allah menyukai urusan yang tinggi-tinggi, إِنَّ اللهَ تَعاَلَى يُحِبُّ مَعَالِيَ اْلأُمُوْرِ ، وَيَكْرَهُ سَفاَسَفَهاَ “Sesungguhnya Allah menyukai permasalahan yang tinggi-tinggi dan Allah tidak menyukai hal-hal yang rendah.” [HR. Thabrani] Dalam banyak dalil, Allah dan Rasul-Nya telah memotivasi kita untuk optimis dalam bercita-cita. Perhatikanlah doa orang-orang yang dipuji oleh Allah, “Dan orang orang yang berkata, Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’” [QS. Al Furqan: 74] Kedudukan muttaqin memang sudah istimewa. Tapi ternyata, doa yang dipanjatkan bukan saja menjadi muttaqin, tapi imam atau pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Ini menunjukkan optimisme yang tinggi, himmah dan semangat yang luar biasa untuk meraih derajat yang agung. Nabi juga menganjurkan kita, فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ “Jika engkau memohon jannah kepada Allah, maka mohonlah Firdaus karena Firdaus adalah jannah yang paling tengah dan paling tinggi, di atasnya adalah Arsy Ar-Rahman, dan darinya pula sungai-sungai jannah mengalir..” [HR Bukhari]. Sungguh beruntung orang yang masuk jannah, tak ada sedikitpun yang membuatnya susah atau menderita, meskipun seseorang mendapatkan jannah pada tingkatan yang paling bawah. Tapi, ternyata Nabi menghasung kita memohon kepada kita jannah yang paling tinggi derajatnya. Karena permohonan yang merupakan ungkapan dari cita-cita itu akan mendorong seseorang untuk berusaha mencurahkan segala potensinya untuk meraih tujuannya yang mulia. Sehebat Apakah Cita-Citamu Sekarang, kita lihat seberapa hebat cita-cita kita. Mumpung masih ada waktu untuk merevisinya, masih ada peluang untuk menata ulang rencana dan usaha. Dan sebagai akhir kalam, saya cukupkan Anda dengan satu sampel yang bisa kita jadikan sebagai referensi dalam memancangkan cita-cita. Adalah Imam Ibnu al-Jauzi, sejak kecil memiliki obsesi yang tinggi dalam hal ilmu. Hingga mendorongnya melakukan usaha yang luar biasa, dan hasil yang dicapainya, sulit pula diimbangi oleh orang sezamannya, dan juga setelahnya. Dia bercerita, “Saya merasakan nikmatnya mencari ilmu, hingga penderitaan di jalan ilmu bagi saya lebih manis dari madu, karena besarnya harapan saya untuk mendapatkan ilmu. Di waktu kecil saya membawa bekal roti kering untuk mencari hadits. Saat istirahat di pinggir sungai, saya tidak bisa makan roti itu saking kerasnya. Satu-satunya cara, saya celupkan roti itu ke sungai, baru aku bisa memakannya. Sekali menelan, saya ikuti dengan meminum air sungai. Kesusahan itu tidak terasa, karena yang ada di benakku hanyalah kelezatan saat mendapatkan ilmu.” Adapun hasilnya, beliau pernah memotivasi puteranya dan berkata, “Dengan jariku ini, aku pernah menulis 2000 jilid buku, seratus ribu orang bertaubat, dan ada 20.000 orang yang masuk Islam dengan sebab dakwahku.” Wallahu a’lam. (Abu Umar Abdillah)

Kamis, 22 September 2011

" Hari Ulang Tahun KaDiv & Admin Suport Divisi Area III PT. GMP ""

Sekian tahun sudah kehadiranmu mempengaruhi orang-orang sekitarmu, dan setiap perbuatanmu telah membentuk karaktermu, dan setiap langkahmu telah membawamu mendekati atau menjauhi cita-citamu, dan kelak... setiap tarikan nafasmu akan dimintai pertanggungjawabannya, untuk menentukan tempatmu di alam yang abadi... Selamat Ulang Tahun Bp. Ir. Wawan Setiawan & Ibu. Noor Aina N Semoga langkah-langkahmu semakin matang dan selalu membawamu ke arah yang lebih baik.
" SELAMAT ULANG TAHUN "

Selasa, 20 September 2011

SOLIDARITAS AIR BERSIH OLEH DIVISI AREA III PT.GMP

Musim kemarau panjang yang terjadi saat ini, menjadikan beberapa wilayah di Indonesia mengalami kekeringan dan kesulitan air bersih untuk kebutuhan sehati-hari. Ini pula yang terjadi di desa-desa sekitar PT. Gunung Madu Plantations. Sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas mengadakan pendistribusian bantuan air bersih berlangsung di sejumlah desa. Bantuan tersebut berasal dari sub Divisi Area III yang Hari ini pendistribusian bantuan dipusatkan di Terbanggi Mulya dan Terbanggi Ilir Lampung Tengah. Divisi Area III menyiapkan sekitar 15 tangki (masing-masing 5.000 liter) air bersih sebagai bantuan bagi warga Terbanggi Ilir dan Terbanggi Mulya yang kesulitan mendapatkan air bersih saat musim kemarau seperti sekarang ini. Pendistribusian sudah dilakukan sejak Sabtu (17/9). Dipastikan masih akan ada warga di desa yang bakal mengajukan bantuan air bersih ke PT. Gunung Madu Plantions karena musim kemarau belum berakhir, oleh karena itu berharap banyak perusahaan-perusahan milik pemerintah maupun swasta turut berpatisipasi dengan memberikan bantuan air bersih,"

HALAL BIHALAL 1432 H DIVISI AREA III

Idul Fitri memiliki arti kembali kepada kesucian, atau kembali ke asal kejadian. Idul Fitri diambil dari bahasa Arab, yaitu fithrah, berarti suci. Dan dalam kenyataannya, perjalanan hidup manusia senantiasa tidak bisa luput dari dosa. Karena itu, perlu upaya mengembalikan kembali pada kondisi sebagaimana asalnya. Itulah makna Idul Fitri. Dosa yang paling sering dilakukan manusia adalah kesalahan terhadap sesamanya. Seorang manusia dapat memiliki rasa permusuhan, pertikaian, dan saling menyakiti. Idul Fitri merupakan momen penting untuk saling memaafkan, baik secara individu maupun kelompok. Budaya saling memaafkan ini lebih populer disebut HALAL BIHALAL. Fenomena ini adalah fenomena yang terjadi di Tanah Air, dan telah menjadi tradisi di negara-negara rumpun Melayu. Ini adalah refleksi ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang. Dalam pengertian yang lebih luas, halal-bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari Lebaran. Keberadaan Lebaran adalah suatu pesta kemenangan umat Islam yang selama bulan Ramadhan telah berhasil melawan berbagai nafsu . Dalam konteks sempit, pesta kemenangan Lebaran ini diperuntukkan bagi umat Islam yang telah berpuasa yang dengan dilandasi iman. Sebagai tradisi tahunan Divisi Area III kembali mengadakan acara Halal bihalal, pada Kamis, 15 September 2011 yang dihadiri oleh seluruh warga Perumahan III PT. GMP. Acara Halal bi halal tahun ini diadakan di GSG ( Gedung Serba Guna ) Perumahan III , Dalam sambutannya Bp. Ir. Wawan Setiawan menyampaikan :
" Kepada para Staff dan karyawan yang ada dilingkungan Divisi III, saya mengajak untuk bersama-sama kita maksimalkan potensi dan kemampuan dalam membangun dan memajukan Gunung Madu secara umum dan terutama Divisi III pada khususnya. Jika dalam pelaksanaan tugas ada hambatan-hambatan, mari kita carikan solusinya sehingga tidak mengganggu kinerja kita.Saya memaklumi bahwa masih banyak yang harus diperbaiki disemua sektor,baik yang teknis maupun yang non teknis. Namun kita tidak boleh menjadikan keterbatasan itu sebagai alasan untuk tidak berprestasi. Pencapaian prestasi harus tetap berjalan seiring dengan upaya perbaikan yang kita lakukan."

Senin, 12 September 2011

Persiapan Mudik Yang Sebenarnya

Oleh : Jalalludin Basri,SE.
PT Gunung Madu Plantations Area III.




Setiap menjelang Idul Fitri, Perumahan – perumahan di Gunung Madu, nampak lengang. Jama’ah di masjid dan musholla mulai berkurang. Jika minggu pertama, masjid-masjid sesak dipenuhi jamaah sholat tarawih maka di penghujung bulan Ramadhan hanya tersisa sekitar satu shaf bahkan kurang dari itu.

Tidak terkecuali pula di masjid Baitul Hikmah Perumahan III, tempat biasa saya shalat. Mulai satu minggu sebelum lebaran, jamaah mesjid tersebut sudah banyak berkurang. Maklum, para karyawan perusahaan ini yang rata-rata perantau mulai libur dan cuti kerja, dan mudik ke kampung halaman.

Mudik adalah kegiatan perantau untuk kembali ke kampung halaman. Mudik bisa berarti pula kembali ke akar kebudayaan kita, ke tempat dimana kita dilahirkan, di daerah yang menjadi asal muasal keluarga besar. Pada hari raya Idul Fitri, nuansa mudik sudah sangat terasa kental. Persiapan-persiapan bahkan sudah dilakukan dari jauh-jauh hari. Pemesanan tiket bahkan sudah dilakukan dari beberapa bulan sebelumnya, menghindari kenaikan harga yang berlebihan. Pembelian oleh-oleh untuk sanak kerabat di kampung halaman pun dipersiapkan dengan rapi sedemikian rupa.

Mesin-mesin yang tidak pernah berhenti beraktivitas, Pabrik besar yang gegap gempita siang dan malam, akan menjadi sepi dan lengang, ditinggal para pekerja yang biasa mengisi kesibukanya. Susah payah kondisi perjalanan tidak menghalangi niatan untuk pulang ke kampung halaman; letih, lelah, dan tenaga yang terkuras, direlakan; membengkaknya biaya perjalanan dan biaya yang dihabiskan, memang sudah diantisipasi jauh-jauh hari sebelumnya. Bagi sebagian orang, mereka bahkan rela mengirit pengeluaran sehari-hari, agar dapat menabung guna memenuhi biaya perjalanan beserta segala pernak-pernik perjalanan mudiknya.

Tradisi mudik di Indonesia adalah urusan yang sangat besar dan sangat menyibukkan. Tidak tanggung-tanggung pemerintah harus menyiapkan dan menjamin kelancaran arus mudik lebaran, dari tentang armada atau angkutan lebaran sampai ke urusan stabilitas sembako. Begitupun para media televisi,radio majalah dan koran tidak ketinggalan tiap waktu mewartakan arus mudik ini.

Tradisi mudik pada Idul Fitri pada dasarnya mengandung nilai positif. Karena di sinilah kita bisa berkunjung dan menyambung silaturrahim dengan orangtua, sanak saudara, kerabat dan handaitaulan di kampung halaman. Mereka saling mengunjungi dan bermaaf-maafan. Bisa kita bayangkan apabila tidak ada lebaran dan tradisi mudik, berapa banyak orang yang kehilangan sanak keluarga karena tidak pernah bertemu dan saling silaturrahim. Walau begitu, silaturrahim dan saling memaafkan tidak harus dilakukan di Hari Raya saja, tapi di hari-hari lainpun bisa dilakukan. Yang perlu diingat ketika mudik adalah persiapan bekal. Supaya lancar sampai tujuan maka bekal tersebut perlu disiapkan sebaik-baiknya.

Para pembaca yang budiman, dapatkah kita mengambil pelajaran dari peristiwa mudik di hari raya Idul Fitri tersebut yang sebagian besar masyarakat kita melakukannya setiap tahun? Bicara tentang mudik, kita teringat dengan peristiwa mudik yang akan dialami oleh setiap orang,karena setiap orang hakikatnya adalah perantau. Setiap orang pasti akan mengalami mudik yang seperti ini bahkan banyak dari kita telah mudik mendahului kita. Mudik yang mau tak mau harus kita lakukan. Tidak peduli kita kaya atau miskin, dan baik terpaksa maupun tidak. Tak lain, mudik tersebut adalah mudik ke kampung akhirat, kampung halaman abadi.

Mudik ini adalah mudik yang tidak pernah kembali lagi ke perantauan, karena di sanalah tempat abadi kita. Untuk menuju ke sana hanya ada satu kendaraan, yaitu kematian. Kematian akan menjemput kita. Itulah mudik yang sebenarnya. Akhirat adalah kampung dengan satu pintu, sekali kita melewatinya, maka sudah pasti dan tidak akan mungkin kita bisa kembali lagi ke dunia. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah, “Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu semua melarikan diri darinya itu, pasti akan menemui kamu, kemudian kamu semua akan dikembalikan ke Dzat yang Maha Mengetahui segala yang gaib serta yang nyata.” (QS. Al-Jumu'ah:8).

Dalam banyak firman-Nya, Allah selalu mengingatkan kita pada konteks mudik ini. Misalnya, "Kemudian, kepada-Kulah tempat kalian semua pulang" (Tsumma Ilayya Marji'ukum). Maka, tradisi mudik yang hingga kini tak pernah tersentuh dan terpengaruh sedikit pun oleh krisis macam apa pun, termasuk krisis yang tiada henti mendera bangsa ini, sebenarnya menjadi prosesi panjang perjalanan anak manusia menuju Tuhannya. Macam-macam cara ditempuh orang untuk menyiapkan kepulangannya. Pulang ke kampung halaman di dunia ini atau ke kampung halamannya di akhirat kelak. Dua tujuan tersebut, meski sama-sama memiliki perspektif yang berbeda tetapi sungguh sama-sama membutuhkan persiapan, minimal bekal untuk dibawa pulang. Bekal untuk keperluan diri sendiri, atau bekal yang akan kita persembahkan kepada saudara-saudara yang tinggal di kampung. Lantas siapa keluarga kita di akhirat? Mudik ke kampung akhirat, tentu tujuannya cuma satu, "bertemu" dengan Allah SWT (Liqaa'a Robbihi).

Mudik ke kampung halaman menjelang Idul Fitri, sesungguhnya merupakan latihan yang nyata menjelang kepulangan kita selama-selamanya ke pangkuan Ilahi. Tanpa kita sadar, selama sebelas bulan lamanya, berbagai persiapan kita lakukan dengan mengumpulkan sebanyak mungkin bekal yang akan kita bawa pulang.

Allah selalu mengingatkan kita agar jangan sampai menyesal ketika kematian datang dan kita masih belum punya bekal yang dibawa yang dapat menyelamatkan kita di alam kubur dan alam akhirat kelak. Sebagaimana orang-orang yang menyesal karena saat kematian tiba bekal yang dibawanya merasa tidak cukup dan merengek kepada Allah supaya jangan dimatikan terlebih dahulu, atau kalau pun sudah dimatikan ingin dikembalikan lagi ke dunia. “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?’" (QS.: Al-Munafiqun [63]:10).

Untuk itu saudara ku, sudah seberapa baik perbekalan yang telah kita persiapkan? Bahkan, sudah sampai seberapa siap diri kita untuk menghadapi perjalanan panjang? Imam Ali bin Abi Thalib, pernah berkata, “Sesungguhnya kita berada pada hari dimana hanya ada amal tanpa ada perhitungan, dan sesungguhnya kita menuju hari dimana hanya ada perhitungan tanpa ada amal”.

Oleh karena itu, jadikan setiap detik dalam hidup kita ini menjadi hari-hari pengumpulan bekal mudik ke kampung akhirat kita, dan tidak cukup sampai di situ, jadikan seluruh sisa usia kita, menjadi ajang persiapan mudik ke kampung akhirat, baik dengan beribadah secara vertikal maupun transendental.

Mari kita jadikan dunia ini sebagai ladang untuk mengumpulkan perbekalan mudik kita ke kampung akhirat. Semoga bekal kita mencukupi sehingga kita mendapatkan tempat yang terbaik di akhirat kelak. Begitu teman – teman ......setuju nggak..?!.

Taqobalallah minna waminkum Taqobal yaKarim. Minal Aizin Walfaidzin. Mohon maaf lahir dan batin.

Minggu, 21 Agustus 2011

Selamat Iedul Fitri 1432 H



Oleh : Jalalludin Basri,SE.
PT. Gunung Madu Plantations Area III.


Dengan takbir dan tahmid, umat Islam melepaskan bulan Ramadan dan dengan takbir dan tahmid pula menyambut 1 Syawal 1432 H. Mudah-mudahan pelepasan bulan Ramadan dan penyambutan bulan Syawal terpenuhi makna dan arti kedua peristiwa yang terjadi dalam suasana bergembira.

Selama bulan Ramadhan, jiwa, ruh, dan hati umat Islam benar-benar telah terasah dengan amal-amal kebajikan, sehingga hati mereka yang merupakan wadah ketakwaan semakin terbuka lebar dan luas guna lebih mengembangkan dan meningkatkan kualitas takwa yang sudah diperoleh selama beribadah di bulan Ramadan, "Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa" (QS. Al-Hujurat ayat 3). Tujuan dari puasa adalah untuk menjadikan orang-orang yang melakukannya menjadi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 183:“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu sekalian dapat bertaqwa”.

Idul fitri adalah hari kemenangan besar yang mengembalikan manusia pada fitrahnya (kesuciannya) dimana jiwa kembali bersih karena dibasuh dengan ibadah, fitrah dan saling memaafkan serta rezeki yang kita miliki telah dicuci pula dengan zakat.

Kembali kepada kesucian artinya dengan merayakan Idul Fitri ini kita mendeklarasikan kesucian kita dari berbagai dosa sebagai buah dari ibadah sepanjang bulan Ramadan. Pada Idul Fitri inilah, manusia yang taat pada takdir Allah SWT meyakini tibanya kembali fitrah diri yang kerap diimajinasikan dengan ungkapan kala itu seperti terlahir kembali. Dan, bila kita bersedia menerima fitrah yang ada di hari besar ini serta menerjemahkan dengan pikiran dan bahasa sederhana, Idul Fitri merupakan momentum bagi manusia untuk langkah awal menuju kehidupan lebih baik.

Segenap Staff dan Karyawan Divisi III Area Mengucapkan Taqobalallah Minna Waminkum Taqobal YaKarim,Minal Aidzin Walfaidzin, Mohon ma’af lahir dan batin.

Sepenggal Hikmah Mudik Lebaran


Oleh : Jalalludin Basri,SE.
PT. Gunung Madu Plantations Area III.





Disebutkan sayyidina 'Ali karamallahu wajhah, pernah mengatakan bahwa hidup adalah sebuah perjalanan panjang, bahwasanya seluruh aktifitas hidup sejatinya adalah perjalanan kembali pulang ke asal. Hidup ini sejatinya adalah perjalanan mudik.

Sudah lama kita meninggalkan kampung, sepanjang dan selama umur kita. Kita bahkan sudah tidak tahu bagaimana keadaannya.Yang paling menyedihkan adalah kita tidak punya bekal yang cukup untuk menempuh perjalanan,bahkan tidak tahu bagaimana keadaan kita sesampainya disana.

Kampung abadi adalah akhirat. Kesanalah perjalanan seluruh manusia bermuara. Banyak orang yang sampai disana, sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah Saw, bekal yang disiapkannya harus diberikan kepada orang lain sehingga dia akhirnya tenggelam dalam penderitaan abadi. Orang-orang itu, ketika pertama sekali datang kepada Allah Swt, mereka membawa banyak kebaikan sebagai bekal, tetapi ketika Allah Swt akan memberikan tempat yang baik untuknya, orang-orang yang pernah dizaliminya, disakiti hatinya, disiksa pisiknya, atau dianiaya, datang dan meminta pertanggungjawabannya sehingga seluruh bekalnya akan diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang telah dianiaya itu. Sayyidina 'Ali mengatakan, "bekal yang paling buruk di hari kiamat adalah berbuat zalim kepada sesama manusia."

Sahabat,itulah kampung kita yang sebenarnya. Seharusnya kepulangan adalah perjalanan yang menyenangkan, yang ditunggu-tunggu waktunya, dan paling dipersiapkan dengan baik. Tetapi ada juga kepulangan yang tiba-tiba, tanpa persiapan dan tentu saja tanpa bekal. Yang pertama disebut pulangnya orang beriman, mereka akan dijemput oleh Rasulullah Saw dan para malaikat dengan senyuman; sementara yang kedua disebut pulangnya orang-orang durhaka.

Mendekati lebaran ini, kita sudah merencanakan mudik. Jauh-jauh hari kita sudah menabung dan menyisihkan rezeki untuk bekal, membeli tiket, dan menyiapkan oleh-oleh. Semuanya kita rencanakan dengan baik. Kita sudah tidak tahan untuk segera bertemu dengan orang tua yang kita cintai, bahkan walau hanya kuburnya sekalipun. Kita sudah rindu untuk bertemu dengan saudara, keluarga dan handai taulan. Kepada mereka kita akan bawakan oleh-oleh yang terbaik yang bisa kita siapkan. Kita pulang ke kampung halaman karena kerinduan.

Karenanya, mudik ke kampung menjelang lebaran ini mestinya menjadi pelajaran, semacam latihan untuk pulang ke kampung abadi suatu saat nanti. Kita membutuhkan pulang kampung, kata Emha 'Ainun Najib, karena di kampunglah kita menemukan keteduhan, ketulusan orang-orang desa, kesederhanaan, kezuhudan yang tidak dibuat-buat, dan keikhlasan yang sederhana. Tempat yang kita tempati selama ini telah mengajari kita untuk berpura-pura, memaksa kita menjadi pemangsa segala, menjadi opportunis, serba cepat namun gegabah, dan memaksa untuk selalu bersikap curiga. Kita butuh mudik agar kita bisa disegarkan kembali dari apa-apa yang sudah hilang di dalam hidup kita. Dan yang paling penting adalah, kita belajar untuk mudik yang sesungguhnya.

Bulan ramadhan yang didalamnya ada laylatul qadr. Allah disuguhkan kemuliaan yang tidak ada di malam-malam yang lain. Marilah kita memanfaatkannya untuk mengumpulkan bekal dalam perjalanan, saat kita mudik nanti. Rasanya hati sudah tidak sanggup lagi menanggung kerinduan untuk bertemu dengan pemimpin kafilah ruhani, Muhammad al-Musthafa yang akan menyiapkan air kehidupan dari telaga al-Kautsar. Marilah kita mempersiapkan mudik bersama ke kampung abadi seperti kita menyiapkan mudik ke kampung lebaran nanti.

Jumat, 19 Agustus 2011

Buka Bersama 18 Ramadhan 1432 H


Sebagai bentuk menjalin silaturahim sesama warga, divisi III mengadakan "Buka Bersama" yang di ikuti seluruh warga divisi III .






Selasa, 26 Juli 2011

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa

Oleh : Jalalludin Basri,SE.
PT Gunung Madu Plantations Area III




Al-Baqarah ayat 183:”Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kalain bertakwa.”
Jika semua harta adalah racun, maka zakatlah penawarnya.
Jika semua umur adalah dosa, maka tobatlah obatnya
Jika seluruh bulan adalah noda maka Ramadhanlah pemutihnya.
Kami Keluarga besar Divisi III Plantations mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Semoga puasa kali ini semakin kita dekat dan cinta kepada Allah yang benar-benar mengerti kita.Semakin cinta Allah yang benar-benar mengerti tautan sel dan alian darah ditubuh kita.
sahabat, Kita hanyalah peminjam atas nyawa yang diberikanNya,
Kita hanyalah peminjam atas tubuh, waktu, dan kesempatan.
Apakah kita akan menyia-nyiakan pinjaman ini.
Perlu sahabat ketahui, bahwa bulan ini adalah bulan penempaan.
seperti seorang tentara yang akan berperang, maka bulan ini adalah bulanpelatihanperang. Tapi taukah sahabat, bahwa peperangan yang sebenar-benarnya adalah 11 bulan yang akan kita lalui setelahnya. Sukses tidaknya penempaan pada bulan ini dapat dilihat pada 11 bulan kedepan.
Ramadhan seperti layaknya toko, dia memberikan obral pahala besar-besaran.
diskon dosa sampai 99%, bahkan 100%. Memberikan Dorprize lailatul Qadar
Maka, mari kita kejar, kita tempa diri kita dibulan ini agar tidak terkejut akan apa yang akan kita hadapi 11 bulan kedepan.Sekali lagi Kami Staff dan Karyawan Divisi III Plantations mengucapkan Selamat menunaikan Ibadah puasa. Mohon maaf atas segala kesalahan. semoga bulan esok kita kembali fitrah. seperti bayi yang baru lahir. Mari kita bangun semangat dan jiwa perang kita.
Selamat menjalankan ibadah puasa
Divisi III,………………. Bangkit!
Divisi III Bangkit,………Yesss!!
Gunung Madu,…………Jaya!

Kamis, 07 Juli 2011

Lukisan 3D di Jalanan yang Seperti Nyata

Berikut ini adalah foto - foto lukisan 3D di Jalanan. Mungkin sobat bisa lihat bagaimana orang yang berada di sekitar lukisan seperti menyatu didalam lukisan tersebut. Wah...benar - benar Amazing Gan !














  © Blogger template 'Personal Blog' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP